Sabtu, 12 Mei 2012

Kutukan Tippecanoe


Kutukan Tippecanoe


Dalam sejarah 218 tahun dari presiden, delapan presiden AS telah meninggal di kantor. Empat ( William Henry Harrison , Zachary Taylor, Warren G. Harding , dan Franklin Delano Roosevelt ) meninggal karena sakit. Empat lainnya ( Abraham Lincoln , James Garfield ,William McKinley , dan John F. Kennedy ) dibunuh. 

Tujuh dari presiden disayangkan memiliki sesuatu yang sama.Mereka semua dipilih atau relected dalam satu tahun yang berakhir dengan nol. Mempertimbangkan keadaan:

  1. 1. Harrison terpilih pada 1840. In Alamat Peresmian, yang ia disampaikan pada tanggal 4 Maret 1841, Presiden Harrison berjanji untuk melayani hanya satu istilah. Dia akhirnya menjabat sebagai presiden untuk tepat satu bulan. Harrison tekena pneumonia dan meninggal pada tanggal 4 April 1841.
  2. 2. Abraham Lincoln terpilih pada tahun 1860. Pemerintahannya telah disibukkan dengan Perang Saudara, sebagai Selatan berusaha untuk melepaskan diri dari Perhimpunan. Lincoln terpilih kembali pada 1864, dan Selatan secara resmi menyerah pada tanggal 9 April 1865. Sementara menonton sebuah drama di Teater Ford di Washington, DC lima hari kemudian, Presiden Lincoln ditembak oleh John Wilkes Booth , terkenal tahap aktor yang bersimpati dengan Konfederasi.Presiden Lincoln meninggal keesokan harinya pada tanggal 15 April 1865.
  3. James Garfield terpilih pada 1880. Pada tanggal 2 Juli 1881, ia ditembak di Washington, DC stasiun kereta api oleh Charles Guiteau , menggerutu kantor-pencari. (Gambar atas menggambarkan penembakan itu.) Karena dokter yang merawat Garfield tidak dapat menemukan peluru, dia tetap incapacatied. Kondisi Garfield terus deteroriate, dan ia meninggal pada tanggal 19 September 1881.
  4. Presiden William McKinley dipilih kembali pada tahun 1900.Pada tanggal 6 September 1901, saat menghadiri Pan-American Exposition di Buffalo, New York, dia ditembak dua kali oleh Leon Czolgosz , seorang anarkis. Walaupun dokter diharapkan McKinley untuk pulih, ia meninggal delapan hari kemudian.
  5. Warren G. Harding terpilih pada 1920. Presiden Harding meninggal mendadak karena serangan jantung saat mengunjungi San Francisco pada tanggal 2 Agustus 1923.Meskipun populer pada masa jabatannya, reputasi Harding sangat menderita setelah skandal dalam pemerintahannya banyak terungkap.
  6. Presiden Franklin Delano Roosevelt terpilih kembali ke masa jabatan ketiga belum pernah terjadi sebelumnya pada tahun 1940. Selama tahun-tahun perang, kesehatannya berangsur-angsur menurun. Pada tanggal 30 Maret 1945, Presiden Roosevelt, yang terpilih kembali pada 1944, meninggal di Warm Springs, Georgia pendarahan otak. Dia tidak hidup untuk melihat akhir Perang Dunia II.
  7.  John F. Kennedy terpilih pada tahun 1960. Selama masa jabatannya, ketegangan Perang Dingin dengan Uni Soviet hampir berubah menjadi perang nuklir selama Krisis Berlin pada September 1961dan Krisis Misil Kuba bulan Oktober 1962 .Pada tanggal 22 November 1963, saat mengunjungi Dallas, Texas, Presiden Kennedy dibunuh oleh Lee Harvey Oswald, pecundang Marxis dan seumur hidup yang ingin mencapai ketenaran. Setelah kematian Kennedy, banyak orang Amerika mulai percaya bahwa konspirasi jahat berada di balik pembunuhan presiden muda.


Apa kemungkinan bahwa tujuh presiden yang memenangkan pemilu di nol akhir tahun akan mati di kantor? Apakah hanya sebuah kebetulan (seperti Red Sox memenangi dua kejuaraan Seri Dunia dalam empat tahun) atau ada sesuatu yang lebih di balik kematian?

Banyak orang percaya bahwa kutukan bertanggung jawab atas kematian tujuh presiden. Sejak Harrison adalah presiden pertama yang mati, kutukan itu ditelusuri kembali kepadanya. Di tahun 1811, Harrison, yang bertugas sebagai Gubernur Wilayah Indiana, yang dipimpin pasukan AS untuk kemenangan melawan konfederasi asli Amerika yang diselenggarakan oleh Tecumseh , kepala Shawnee, dalam Pertempuran Tippecanoe . Menurut legenda, saudara Tecumseh muda, Tenskwatawa , yang dikenal sebagai "Nabi" dan yang memimpin India selama pertempuran, ditempatkan kutukan pada Harrison dan penghuni masa depan Gedung Putih. Meskipun legenda bertahan, tidak ada bukti dokumenter untuk mendukung klaim bahwa Tenskawatawa pernah ditempatkan seperti kutukan pada Harrison dan beberapa penerusnya. (Kutukan yang dikenal sebagai "Kutukan Tippecanoe," "Kutukan Tecumseh," "kutukan presiden," "kutukan nol tahun," dan "kutukan dua puluh tahun.")

"Kutukan," jika pernah ada, akhirnya dipecahkan oleh Presiden Ronald Reagan , yang terpilih pada tahun 1980. Pada tanggal 30 Maret 1981, Reagan luka parah dalam percobaan pembunuhan . Dia segera pulih dan kembali mengerjakan tugas-tugasnya. Ia terpilih kembali pada 1984 dan meninggalkan kantor sangat hidup pada akhir masa jabatannya. Reagan sering dikaitkan kelangsungan hidup untuk intervensi ilahi.

Sumber : http://www.facebook.com/notes/rheza-widyawardana/kutukan-tippecanoe/10150868078194518

Rabu, 09 Mei 2012

Islam di Indonesia + teori


Islam Di Indonesia
Islam merupakan agama dengan pemeluk terbesar di Indonesia. Hal tersebut tidak terlepas dari usaha para juru dakwah agama Islam dalam melakukan islamisasi di  Indonesia. Islamisasi adalah istilah umum yang biasa dipergunakan untuk menggambarkan proses persebaran Islam di Indonesia pada periode awal (abad 7-13 M), terutama menyangkut waktu kedatangan, tempat asal serta para pembawanya, yang terjadi tidak secara sistematis dan terencana. Inilah definisi  islamisasi yang dimaksud dalam tulisan ini. Metodologi tulisan ini sepenuhnya merupakan penelitian kepustakaan (library research). Di sini penulis akan mencoba menguraikan beberapa pandangan mengenai teori Islamisasi di Indonesia secara deskriptif-analitis. Pembahasan mengenai masuknya Islam ke Indonesia sangat menarik terkait dengan banyaknya perbedaan pendapat di kalangan sejarawan.
Mengenai tempat asal kedatangan Islam yang menyentuh Indonesia, di kalangan para sejarawan terdapat beberapa pendapat. Ahmad Mansur Suryanegara mengikhtisarkannya menjadi tiga teori besar:
1.       Teori Gujarat. Islam dipercayai datang dari wilayah Gujarat – India melalui peran para pedagang India muslim pada sekitar abad ke-13 M.
2.       Teori Mekkah. Islam dipercaya tiba di Indonesia langsung dari Timur Tengah melalui jasa para pedagang Arab muslim sekitar abad ke-7 M.
3.       Teori Persia. Islam tiba di Indonesia melalui peran para pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke nusantara sekitar abad ke-13 M.
1. Teori Gujarat
                Teori ini dapat diliat dari Penyampaian W.F. Stutterheim. Ia menjawab aspek-aspek mendasar dalam sejarah, tentang di mana (ruang) dan kapan (waktu). Dengan jelas, ia menyebutkan Gujarat sebagai negeri asal Islam yang masuk ke Nusantara. Pendapatnya didasarkan pada argumen bahwa Islam disebarkan melalui jalur dagang antara Nusantara Cambay (Gujarat) Timur Tengah Eropa. Argumentasi ini diperkuat dengan pengamatannya terhadap nisan-nisan makam Nusantara yang diperbandingkan dengan nisan-nisan makam di wilayah Gujarat. Relief nisan Sultan pertama dari kerajaan Samudera (Pasai), al-Malik al-Saleh (1297 H), menurut pengamatan Stutterheim, bersifat Hinduistis yang mempunyai kesamaan dengan nisan yang terdapat di Gujarat. Kenyataan ini cukup memberikan keyakinan pada dirinya bahwa Islam datang ke Nusantara dari Gujarat. Demikian ia menjelaskan aspek ruang kedatangan Islam ke Nusantara. Penjelasan ini cukup argumentatif dan didukung data yang memadai, tetapi Stutterheim tidak memperhatikan proses Islamisasi di Gujarat.
                Sebagaimana dijelaskan Marison, wilayah ini baru diislamkan satu tahun setelah wafatnya sang Sultan, yaitu pada 1298 M. Pada saat bersamaan penyebaran masyarakat Islam pada periode tersebut, ketika bangsa Mongol melebarkan ekspansinya (Bagdad ditaklukan pada 1258 M), mereka mulai mencari daerah baru bagi kehidupan mereka. Seandainya Stutterheim menyebutnya sebagai proses lebih lanjut dari Islamisasi Nusantara, misalnya perkembangan Islam pada abad 14-16, bisa jadi Gujarat ikut andil memberikan pengaruhnya di Nusantara mengingat daerah itu (Gujarat) lebih dekat secara geografis ke wilayah Nusantara. Walaupun terdapat kekurangan, teori yang dikemukakan Stutterheim mendapat dukungan dari Moquette, sarjana asal Belanda.
Penelitian Moquette terhadap bentuk batu nisan membawanya pada kesimpulan bahwa Islam di Nusantara berasal dari Gujarat. Moquette menjelaskan bahwa bentuk batu nisan, khususnya di Pasai mirip dengan batu nisan pada makam Maulana Malik Ibrahim  (822 H/1419 M) di Gresik Jawa Timur. Sedangkan bentuk batu nisan di kedua wilayah itu sama dengan batu nisan yang terdapat di Cambay (Gujarat). Kesamaan bentuk pada nisan-nisan tersebut meyakinkan Moquette bahwa batu nisan itu diimpor dari India. Dengan demikian, Islam di Indonesia, menurutnya, berasal dari India, yaitu Gujarat. Teori ini kemudian dikenal juga dengan teori batu nisan.
Kesimpulan :
Bukti teori ini terdapat dari bentuk batu nisan makam di Pasai sama dengan Nisan makam di Cambay (Gujarat).
        2. Teori Mekkah
teori bahwa Islam Indonesia berasal langsung dari Mekkah antara lain dikemukakan olehCrawfurd (1820), Keyzer (1859), Nieman (1861), de Hollander (1861), dan Verth (1878). Tokoh dari Asia Tenggara, termasuk Indonesia yang mendukung teori ini di antaranya Hamka, A. Hasymi, dan Syed Muhammad Naquib Al-Attas.
Al-Attas sebagai tokoh pendukung teori ini menyebutkan, bahwa aspek-aspek atau kerakteristik internal Islam harus menjadi perhatian penting dan sentral dalam melihat kedatangan Islam di Nusantara, bukan unsur-unsur luar atau aspek eksternal. Karakteristik ini dapat menjelaskan secara gamblang mengenai bentuk Islam yang berkembang di Nusantara. Lebih lanjut Al-Attas menjelaskan bahwa penulis-penulis yang diidentifikasi sebagai India dan kitab-kitab yang dinyatakan berasal dari India oleh sarjana Barat khususnya, sebenarnya adalah orang Arab dan berasal dari Arab atau Timur Tengah atau setidaknya Persia. Sejalan dengan hal ini, Hamka menyebutkan pula bahwa kehadiran Islam di Indonesia telah terjadi sejak abad ke-7 dan berasal dari Arabia sedangkan T.W. Arnold dan Crawford lebih didasarkan pada beberapa fakta tertulis dari beberapa pengembara Cina sekitar abad ke-7 M, dimana kala itu kekuatan Islam telah menjadi dominan dalam perdagangan Barat-Timur, bahwa ternyata di pesisir pantai Sumatera telah ada komunitas muslim yang terdiri dari pedagang asal Arab yang di antaranya melakukan pernikahan dengan perempuan-perempuan lokal. Pendapat ini didasarkan pada berita Cina yang menyebutkan, bahwa pada abad ke-7 terdapat sekelompok orang yang disebut Ta-shih yang bermukim di Kanton (Cina) dan Fo-lo-an (termasuk daerah Sriwijaya) serta adanya utusan Raja Ta-shih kepada Ratu Sima di Kalingga Jawa (654/655 M). Sebagian ahli menafsirkan Ta-shih sebagai orang Arab. Mengenai Raja Ta-shih tersebut, menurut Hamka, adalah Muawiyah bin Abu Sufyan yang saat itu menjabat sebagai Khalifah Daulah Bani Umayyah. Untuk meyakinkan asal usul Islam di Nusantara, seminar seputar masalah ini telah digelar beberapa kali.            
Seminar Masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia telah diselenggarakan di Medan 17-20 Maret 1969 dan seminar serupa juga diadakan di Aceh pada 10-16 Juli 1978 dan 25-30 September 1980. Berdasarkan hasil seminar-seminar tersebut, disimpulkan bahwa Islam masuk ke Nusantara langsung dari Arabia, bukan India. Hasil seminar ini memperkuat teori bahwa Islam di Nusantara berasal dari Arab sebagaimana ditegaskan Al-Attas dan didukung oleh sejarawan Indonesia, seperti Hamka dan Muhammad Said.
Kehadiran orang-orang Islam yang berasal dari Timur Tengah ke Nusantara(kebanyakan adalah dari Arab dan Persia) menurut Azyumardi Azra, ahli Islam di Asia Tenggara, terjadi pada abad ke-7.     
 Bukti lain yang menunjukkan bahwa Islam berasal dari Arab yaitu :
1.       Terdapat juga sebuah kitab ‘Aja’ib al-Hind yang ditulis al-Ramhurmuzi sekitar tahun 1000 M, dikatakan bahwa para pedagang muslim telah banyak berkunjung kala itu ke kerajaan Sriwijaya
2.       Menurut al Mas’udi pada tahun 916 telah berjumpa Komunitas Arab dari Oman, Hidramaut, Basrah, dan Bahrein untuk menyebarkan islam di lingkungannya, sekitar Sumatra, Jawa, dan Malaka.
3.       Munculnya nama “kampong Arab” dan tradisi Arab di lingkungan masyarakat, yang banyak mengenalkan islam.
4.       Kerajaan Samudra Pasai menganut aliran mazhab Syafii, dimana pengaruh mazhab Syafii terbesar pada waktu itu adalah Mesir dan Mekkah.

3. Teori Persia
Teori Persia yang dikemukakan oleh sebagian sejarawan di Indonesia tampaknya kurang populer dibanding teori-teori sebelumnya. Teori Persia lebih menitikberatkan tinjauannya pada kebudayaan yang hidup di kalangan masyarakat Islam Indonesia yang dirasakan mempunyai persamaan dengan Persia. Kesamaan kebudayaan itu antara lain :
·         Peringatan 10 Muharram atau Asyura sebagai hari peringatan syiah atas kematian Husain. Biasanya diperingati dengan membuat bubur Syura. Di Minangkabau bulan Muharram disebut juga bulan Hasan-Husain.
·         Adanya kesamaan ajaran antara ajaran Syaikh Siti Jenar dengan ajaran Sufi Iran Al-Hallaj, sekalipun Al-Hallaj telah meninggal pada 310H/922M, tetapi ajarannya berkembang terus dalam bentuk puisi, sehingga memungkinkan Syaikh Siti Jenar yang hidup pada abad ke-16 dapat mempelajarinya.
·         Penggunan istilah bahasa Iran dalam sistem mengeja huruf Arab, untuk tanda-tanda bunyi harakat dalam pengajian Al-Quran tingkat awal.
Teori Persia mendapat tentangan dari berbagai pihak, karena bila kita berpedoman kepada masuknya agama Islam pada abad ke-7, hal ini berarti terjadi pada masa kekuasaan Khalifah Umayyah. Sedangkan, saat itu kepemimpinan Islam di bidang politik, ekonomi dan kebudayaan berada di Mekkah, Madinah, Damaskus dan Baghdad. Jadi, belum memungkinkan bagi Persia untuk menduduki kepemimpinan dunia Islam saat itu.Namun, beberapa fakta lainnya menunjukkan bahwa para pedagang Persia menyebarkan Islam dengan beberapa bukti antar lain:
1.       Gelar “Syah” bagi raja-raja di Indonesia.
2.       Pengaruh aliran “Wihdatul Wujud” (Syeh Siti Jenar).
3.       Pengaruh madzab Syi’ah (Tabut Hasan dan Husen).